Thursday, 27 November 2014

Tugas Pengantar Bisnis (soft skill)

 Sebuah Awal
Tokushima, 1973
Di sebuah pabrik terlihat seseorang sedang mengamati para pekerja sedang melakukan tugasnya. Secara tekun dia mengawasi dan memastikan bahwa tidak ada masalah dalam proses produksi. Berusaha dekat dengan para pekerja dan berinteraksi dengan mereka.  Dia adalah Akihiko Otsuka , kepala pabrik di Otsuka Pharmaceutical. Akihiko merupakan anak dari Masahito Otsuka yang menjadi presiden direktur dan cucu dari pendiri perusahaan. Dalam kepemimpinan Masahito yang  kharismatik, perusahaan sudah memproduksi beberapa obat yang menjadi andalan perusahaan seperti obat oles Oronine G dan minuman Oronamin C.  Seakan tidak mau kalah dengan kesuksesan kakek dan ayahnya, Akihiko ingin menciptakan sebuah produk yang belum pernah ada. Akihiko yang baru berusia 35 tahun bertekad untuk mengembangkan produk yang dapat menjadi pilar perusahaan dengan tangannya sendiri.
Suatu hari Akihiko didatangi oleh Rokuro Harima, salah seorang staf-nya yang bertanggung jawab dalam pengembangan minuman. Harima yang berpenampilan serius dijuluki sebagai ahli rasa dan dipercaya menangani pengembangan produk andalan Oronamin C. Harima mengeluarkan sebotol cairan infus dan mengusulkan dijadikan sebuah produk minuman. Usul ini tentu saja membuat kaget dan bingung Akihiko, bagaimana mungkin cairan infus bisa menjadi sebuah minuman?
Harima lalu bercerita tentang pengalaman buruk yang dialaminya saat berada di Meksiko. Saat itu Harima yang sedang melakukan survey mengalami diare parah karena kondisi air bersih disana cukup buruk. Dia dirawat di rumah sakit yang fasilitas medisnya terbatas, bahkan cairan infus pun tidak ada. Oleh seorang dokter dia diberi obat harus minum dengan air soda karena kondisi air putih disana kurang baik. Dokter itu lalu menjelaskan  air dan zat gizi berkurang secara drastis karena diare . Kalau tidak menambah kadar air tubuh akan terjadi dehidrasi atau kekurangan cairan. Akhirnya Harima mengerti dan teringat peristiwa ketika melihat seorang dokter yang meminum cairan infus untuk mengganti cairan tubuh yang hilang setelah melakukan operasi berjam-jam. Saat itu Harima mempunyai ide untuk mengembangkan  cairan infus sebagai produk yang layak diminum.
Akihiko menyimak serius pengalaman dan ide Harima tadi. Sesaat dia meresapi usulan itu.Namunmenurutnya belum saatnya cairan infus diproduksi menjadi layak minum. Harima terlihat sedikit kecewa dengan jawaban tersebut.
  

Eksperimen
Tanpa terasa tiga tahun waktu berlalu. Tahun 1976 Akihiko Otsuka sudah menjadi Presiden Direktur Otsuka Pharmaceutical ke-3 dalam usia 38 tahun menggantikan posisi ayahnya. Pada suatu hari Akihiko memanggil Harima kedalam ruangannya. Harima datang didampingi staf-nya seorang peneliti muda yang bernama  Akihisa Takaisci yang berusia 33 tahun.
Akihiko mengungkapkan bahwa dia ingin mengembangkan minuman cairan infus yang diusulkan oleh Harima tiga tahun yang lalu. Harima cukup kaget mendengarnya, namun terlihat senang dan tersenyum – suatu hal yang sangat jarang terjadi. Akihiko menambahkan, inilah saatnya untuk mengembangkan minuman tersebut dengan alasan banyak orang melakukan jogging yang sedang trend. Dengan jogging otomatis keringat akan banyak keluar dari tubuh. Akihiko ingin menciptakan sebuah minuman kesehatan yang bisa menggantikan cairan keringat yang sudah keluar dari tubuh tadi, tentu dengan komposisi yang sama dengan dengan keringat agar tenaga cepat pulih kembali. Namun tentu saja dengan rasa yang berbeda dengan keringat. Konsep rasa dijelaskan oleh Akihiko yaitu membuat minuman yang mempunyai rasa yang tidak membosankan. Walaupun diminum setiap hari tetapi harus terasa enak ditenggorokan!
Setelah mengerti apa yang diinginkan oleh sang presdir, akhirnya Harima dan Takaichi meninggalkan ruangan. Harima menyerahkan tugas ini sepenuhnya kepada Takaichi dan menyanggupinya.
***
Sejak saat itu Takaichi mulai melakukan eksperimen-eksperimen. Dimulai dengan pergi ke sauna untuk mengetahui bagaimana rasa keringat itu sesungguhnya dan ternyata rasanya asiiiiiin banget bisiknya saat mencicipi keringatnya sendiri. Lain waktu dia berjalan-jalan disekitar kantor, kembali menyimpan keringatnya ke dalam gelas. Sesampainya di laboratorium dia menganalisa komposisi keringatnya saat berjalan dan membandingkannya dengan keringat saat disauna.  Dan ternyata hasilnya cukup mengagetkan. Komposisi nilai konsentrasi kadar garam atau ion Natrium saat di sauna mencapai 145, sedangkan saat berjalan hanya 20. Takaichi baru menyadari bahwa keringat-pun memiliki beberapa jenis. Untuk mandi sauna atau olahraga berat menciptakan keringat dengan kadar garam yang tinggi sedangkan kegiatan sehari-hari menciptakan keringat dengan kadar garam rendah. Minuman yang ingin diciptakan oleh perusahaan adalah minuman menambah kadar air tubuh dalam kehidupan sehari, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa minuman yang harus dibuat adalah dengan membuat minuman dengan komposisi kadar garam yang rendah.
Lalu Takaichi membuat minuman ujicoba, dengan persis mengikuti komposisi keringat saat dia berjalan-jalan. Setelah mendapat rasa yang diinginkan kemudian dia menghadap Harima untuk melaporkan hasil eksperimennya.  Harima segera meminum ramuan tersebut. Sebagai seorang ahli rasa dia mengatakan dengan jujur bahwa minuman itu rasanya pahit. Dalam komposisi keringat, selain mengandung  ion Natrium yang mengandung rasa asin, terkandung juga Ion Kalium dan Magnesium yang mengandung rasa pahit. Inilah yang menyebabkan ramuan Takaichi ada rasa pahit. Harima mengatakan bahwa rasa pahit tidak bermasalah jika diminum sebagai obat, namun ia mengingatkan bahwa yang ingin diciptakan oleh perusahaan adalah sebuah minuman ringan. Jadi, jangan lupakan itu! ujarnya sambil meninggalkan Takaichi yang terlihat kebingungan.





Penemuan Tak Terduga
Tahaichi berusaha keras menciptakan minuman yang diinginkan perusahaan. Bukan hanya di kantor, dirumah pun dia masih memikirkan minuman tersebut. Bahkan pada hari libur sekalipun dia tetap melakukan penelitian. Dan akhirnya terlintas ide untuk menambah pemanis alami untuk menghilangkan rasa pahit. Hal itu diakui Harima saat mencicipi ramuan baru tersebut. Namun yang menjadi permasalahan baru adalah minuman itu justru menjadi manis. Komposisi menjadi tidak seimbang ungkap Harima. Apa yang ingin diciptakan perusahaan adalah minuman kesehatan, bukan minuman jus. Maka kadar gulanya harus ditekan serendah mungkin. Harima mengingatkan kadar gula dalam minuman tersebut harus dibawah 10%. Saat itu hampir semua minuman memiliki kadar gula 12% dan itu menjadikan minuman itu laris. Takaichi berpikir keras untuk menemukan ramuan yang diinginkan oleh atasannya itu.  Ia kembali berkutat dalam lab ujicobanya. Minuman yang tidak terlalu manis tanpa rasa pahit. Lebih dari 1000 jenis ujicoba sudah dibuatnya. Dengan tekun dan tanpa putus asa, Takaichi mencoba dan mencoba eksperimen yang dibuatnya.
***
Dan akhirnya setelah hampir 3 tahun melakukan eksperimen dan serangkaian ujicoba. Suatu hari di bulan Mei 1979 Harima membawa ramuan tersebut kepada Akihiko. Sang presdir segera meminum ramuan terbaru itu. “Masih tetap ada rasa pahit”, ucapnya dingin dan dibenarkan oleh Harima. Takaichi merasa tertekan dan menghela nafas panjang.
Kemudian salah seorang karyawan  masuk ke dalam ruangan , dia ingin Presiden Direktur Akihiko menguji minuman uji coba serbuk instan yang sedang dikembangkan. Minuman itu segera dicicipi. Masih belum sempurna, ucapnya datar.
Akihiko terlihat menerawang. Tanpa diduga dia mencampurkan kedua minuman yang belum sempurna itu dan segera mencicipinya. “Ini baru enak!” ucapnya penuh keyakinan. Harima dan Takaichi ikut mencicipi. Harima membenarkan.  Rasa pahitnya hilang, ujar Takaichi. Ternyata minuman instan rasa jeruk ini bisa membuat netral.  Harima menjelaskan mungkin rasa pahit yang khas dari jeruk dapat menutupi rasa pahit yang tidak enak. Presiden Direktur Akihiko tersenyum dan kembali meminum racikan campurannya tadi dan tersenyum penuh kemenangan.  Sejarah besar akan segera dimulai.
***
Takaichi kembali bersemangat. Dia membeli berbagai jenis jeruk dan mencampurnya dengan minuman kesehatan. Setelah melakukan serangkaian ujicoba akhirnya dia menemukan jenis jeruk  yang berhasil menutupi rasa pahit.  Takaichi akhirnya berhasil membuat minuman dengan kadar gula dibawah 10%. Terpilih 2 jenis minuman untuk ujicoba tahap akhir : kadar gula  6,2% dan 7%. Untuk memperoleh tanggapan yang objektif Harima meminta peneliti lain untuk mencobanya. Para peneliti menyukai rasa manis yang secara mutlak yaitu kadar gula 7%.
Namun Harima sang ahli rasa mempunyai suatu ide.
***
Beberapa hari kemudian, sesudah ujicoba di laboratorium Harima mengajak para peneliti bawahannya melakukan naik gunung dalam kota Tokushima. Sesampainya di puncak gunung Harima mengeluarkan dua jenis botol minuman : A dan B. Harima kemudian meminta para peneliti meminumnya. Semua mengatakan bahwa minuman A terlalu manis dan B lebih enak. Harima mengatakan bahwa minuman A dengan kadar gula 7% dan minuman B 6,2%. Harima menjelaskan saat berkeringan minuman dengan kadar gula sedikit terasa segar dan lebih enak. Selain itu karena ini minuman kesehatan maka harus terasa enak diminum saat kita melakukan aktifitas. Harima kembali tersenyum.
***
Harima dan Takaichi kembali menghadap Presiden Direktur Akihiko. Setelah mencicipi minuman yang ditawarkan tanpa ragu Akihiko menyetujui minuman tersebut. Dalam sebuah rapat dengan direksi, Akihiko memperkenalkan minuman yang baru kembangkan dan meminta direksi untuk mencobanya. Seorang direksi dengan terus terang kurang menyukai minuman tersebut karena rasanya tawar.  Direksi lain mengatakan rasanya asin dan tidak akan laku. Hampir semuanya memberikan reaksi negative. Hingga akhirnya Presiden Direktur Akihiko angkat bicara.
“Saya mengerti tanggapan Anda. Tetapi Anda saat ini meminumnya dalam ruangan rapat. Coba meminumnya setelah berkeringat dan dipersilahkan minum berulang kali . Dengan demikian Anda baru akan mengerti hebatnya produk ini.”
Kemudian Akihiko berdiri dan dengan penuh keyakinan mengatakan,  “Saya putuskan perusahaan kita akan menjual minuman ini!” Lalu menatap Harima dan Takaichi dibalas dengan anggukan keduanya. Mereka lega dengan keputusan ini. Akhirnya setelah beberapa tahun bereksperimen, hasil kerja keras mereka dapat terwujud dan akan di produksi.
Produknya diberi nama Pocari Sweat , yaitu kata Pocari yang memiliki kesan menyegarkan dan digabung dengan kata Sweat yang memiliki arti keringat dalam bahasa Inggris.
***

Reaksi Konsumen
Pada bulan April 1980 penjualan Pocari Sweat dimulai. Tim marketing yang dipimpin Jiro Tanakaoleh mulai mengunjungi toko pengecer langganannya. Namun ketika para pengecer mencoba rasa Pocari Sweat mereka menolak karena rasanya tidak lazim. Mereka mengatakan rasanya tanggung, manis tidak, asin juga tidak. Mereka juga tidak yakin bahwa minuman tersebut akan laku dan menolak untuk menjual di tokonya. Demikian pula dengan toko pengecer lainnya.
Tim marketing tidak putus aja. Mereka membuat kios diberbagai event dan menawarkan langsung kepada konsumen. Namun dengan cara seperti ini pun gagal. Konsumen merasa minuman ini rasanya aneh dan nggak jelas. Bahkan diantaranya ada yang marah dan mengguyur seorang marketing dengan Pocari Sweat dari gelasnya.
Reaksi konsumen sangat buruk, sebagaimana yang sudah dicemaskan oleh direksi. Jajaran marketing cukup terpukul dengan kondisi ini. Presiden Direktur Akihiko berpikir keras  dan membuat keputusan yang cukup mengagetkan dengan menyuruh para marketing membagikan Pocari Sweat secara gratis dengan jumlah tidak terbatas.
Akihiko mengatakan bahwa keunggulan Pocari Sweat tidak bisa dirasakan kalau tidak diminum berulang-ulang. Jangan menghitung kerugian dulu, yang penting  mensosialisasikankonsep produk secara tepat daripada menjual produk. Dengan demikian nanti konsumen akan mengerti konsep Pocari Sweat ujarnya dengan penuh keyakinan. Dan penjualan akan meningkat belakangan lanjutnya, ucapnya meyakinkan para marketing.


Titik Balik
Tanaka dan para staf marketing saling berbagi ide, dimana tempat yang paling efektif untuk membagikan Pocari Sweat secara gratis. Dan dimulailah operasi pembagian Pocari Sweat secara gratis besar-besaran di seluruh Jepang. Tanaka menuju ke lapangan baseball sambil berteriak-teriak memanggil anak-anak untuk berkumpul dan mencoba Pocari Sweat secara gratis. Dia langsung membuka cool-box dan membagikan Pocari Sweat kepada semua anak yang tengah kehausan setelah capai bermain baseball.
Anak-anak segera meminumnya dan ketika ditanya Tanaka bagaimana rasa minuman tersebut mereka menjawab serempak, “Enaaaaak!” Tentu saja Tanaka senang dan semakin bersemangat menjelaskan manfaat dan konsep Pocari Sweat sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang ketika olahraga.
Staf marketing yang lain membagikan Pocari Sweat di berbagai tempat dan mendapat reaksi yang positif dari calon konsumen. Kepada konsumen yang baru selesai mandi , kepada ibu-ibu yang kelelahan. Rata-rata mengatakan rasanya aneh tapi enak. Mungkin mereka belum familiar dengan rasa tersebut.
Tanaka dalam laporan kepada Presiden Direktur Akihiko mengatakan bahwa konsumen sudah menyadari bahwa Pocari Sweat itu sangat bermanfaat. Namun dari divisi keuangan melaporkan bahwa perusahaan sudah mengalami kerugian hingga Rp 400 Milyar dengan pembagian gratis ini dan meminta segera dihentikan. Namun Akihiko berpendapat lain. Dia ingin tetap program gratis ini diteruskan hingga akhir tahun dengan suatu keyakinan bahwa suatu saat keuntungan besar akan diraih.
***
Musim Panas 1981
Telepon berbunyi di ruangan marketing. Tanaka segera mengangkatnya sambil mengipas-ngipas tubuhnya karena kepanasan.  Ternyata telepon dari salah seorang pelanggannya. Lalu dia terlonjak kaget. “Hah! Stok Pocari Sweat Sudah habis?” ucapnya setengah berteriak.  Tiba-tiba banyak permintaan untuk mengirim Pocari Sweat dari penjuru negeri.
Dengan konsep dan rasa yang sudah dimengerti konsumen dan hasilnya berbuah pada musim panas tahun kedua. Penjualan melonjak hingga 3 kali lipat dari Rp 900 milyar (1980)menjadi  Rp 2,6 triliun (1981)
Keyakinan Presiden Direktur Akihiko akhirnya berbuah. Untuk mencapai sebuah kesuksesan diperlukan perjuangan, kegigihan dan pengorbanan. Itulah filosofi yang dipegang teguh oleh Akihiko yang didapat dari ayah dan kakeknya.


Saturday, 15 November 2014

Manusia dan Pandangan Hidup

A.   Pengertian Pandangan Hidup
Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati karena ia menentukan masa depan seseorang. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya. Dengan demikian pandangan hidup itu bukanlah timbul seketika atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu yang lama dan terus menerus, sehingga hasil pemikiran itu dapat diuji kenyataannya. Hasil pemikiran itu dapat diterima oleh akal, sehingga diakui kebenarannya. Atas dasar itu manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang disebut pandangan hidup. Pandangan hidup berdasarkan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
  1. Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya
  2. Pandangan hidup yang berupa ideology yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada suatu Negara
  3. Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

Apabila pandangan hidup itu diterima oleh sekelompok orang sebagai pendukung suatu organisasi, maka panandangan hidup itu  disebut ideology. Pandangan hidup pada dasarnya mempunyai unsure-unsur  yaitu : cita-cita, kebajikan, usaha, keyakinan/kepercayaan. CIta-cita ialah apa yang diinginkan yang mungkin dapat dicapai dengan usaha atau perjuangan. Tujuan yang hendak dicapai ialah kebajikan, yaitu segala hal yang baik yang membuat manusia makmur, bahagia, damai, tentram. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan/kepercayaan. Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan akal, kemampuan jasmana, dan kepercayaan kepada Tuhan.


B.     Cita-Cita
Menurut kamus umum bahasa Indonesia cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan merupakan apa yang mau diperoleh seseorang pada masa mendatang. Dengan demikian cita-cita merupakan pandangan masa depan, merupakan pandangan hidup yang akan dating. Pada umumnya cita-cita merupakan semacam garis linier yang makin lama makin tinggi, dengan perkataan lain : cita-cita merupakan keinginan, harapan, dan tujuan manusia yang makin tinggi tingkatannya.
Apabila cita-cita itu tidak mungkin atau belum mungkin terpenuhi, maka cita-cita itu disebut angan-angan. Disini persyaratan  dan kemampuan tidak/belum dipenuhi sehingga usaha untuk mewujudkan cita-cita itu tidak mungkin dilakukan. Antara masa sekarang yang merupakan realita dengan masa yang akan dating sebagai ide atau cita-cita terdapat jarak waktu. Dapatkan seseorang mencapai apa yang dicita-citakannya tergantung dari 3 faktor; pertama factor manusia yang memiliki cita-cita, kedua kondisi yang dihadapi selama mencapai apa yang dicita-citakannya dan ketiga seberapa tinggikah cita-cita yang hendak dicapai.

C.    Kebajikan
Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yagn sesuai dengan norma-norma agama dan etika. Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, mahluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik.. Sebagai mahluk pribadi, manuda dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk. Baik dan buruk itu ditentukan oleh suara hati. Suara hati adalah semacam bisikan didalam hati yang mendesak seseorang, untuk menimbang dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan, tindakan atau tingkah laku. Jadi suara hati dapat merupakan hakin untuk diri sendiri.


            Suara hati selalu memilik yang baik, sebab itu ia selalu mendesak orang untuk berbuat yang baik bagi dirinya. Oleh karena itu, kalau seseorang berbuat sesuatu sesuai dengan bisikan hatinya, maka orang tersebut perbuatannya pasti baik. Jadi berbuat dan bertindak menurut suara hati, maka tindakan itu adalah baik. Jadi baik atau buruk itu dilihat menurut suara hati sendiri. Meskipun demikian harus dinilai dan diukur menurut suatu atau pendapat umum. Jadi kebajikan adalah perbuatan yang sesuai dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan. Kebajikan manusia nyata dan dapat dirasakan dalam tingkah lakunya, karena tingkah laku bersumber pada pandangan hidup, maka setiap orang memiliki tingkah laku sendiri-sendiri, sehingga tingkah laku setiap orang berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku seseorang adalah: factor pembawaan, factor lingkungan dan pengalaman.

D.    Usaha/Perjuangan
Usaha /perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Kerja keras itu dapat dilakukan dengan otak/ilmu maupun denan tenaga/jasmani, atau dengan kedua-duanya. Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Untuk bekerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan, karena kemampuan terbatas timbul perbedaan tingkat kemakmuran antara manusia satu dan manusia lainnya,

E.     Keyakinan/Kepercayaan.
Keyakinan/kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan. Menurut Prof.Dr.Harun Nasution, ada 3 aliran filsafat yaitu
1)      Aliran naturalisme; hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari nature, dan itu dari Tuhan. Tetapi yang tidak percaya pada Tuhan, nature itulah yang tertinggi. Aliran naturalisme berisikan spekulasi mungkin ada Tuhan mungkin juga tidak ada

2)      Aliran intelektualisme; dasar aliran ini adalah logika/akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal manusia berpikir, mana yang benar menurut akal itulah yang baik, walaupun bertentangan dengan kekuatan hati nurani. Manusia yakin bahwa dengan kekuatan piker (akal) kebajikan itu dapat dicapai dengan sukses. Dengan akal diciptakan teknologi, teknologi adalah alat Bantu mencapai kebajikan yang maksimal, walaupun mungkin teknologi memberi akibat yang bertentangan dengan akal. Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka keyakinan manusia itu bermula dari akal. Jadi pandangan hidup ini dilandasi oleh keyakinan kebenaran yang diterima akal.Benar menurut akal itulah yang baik. Manusia yakin bahwa kebajikan hanya dapat diperoleh dengan akal (ilmu dan teknologi). Pandangan hidup ini disebut liberalisme. Kebebasan akal menimbulkan kebebasan bertingkah laku dan berbuat, walaupun tingkah lakudan perbuatannya itu bertentangan dengan hati nurani. Kebebasan akal lebih ditekankan pada setiap individu. Karena itu individu yang berakal (berilmu dan berteknologi) dapat menguasai individu yang berpikir rendah (bodoh)

3)       Aliran Gabungan. Dasar aliran ini idalah kekuatan gaib dan juga akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar keyakinan. Sedangkan akal adalah dasar kebudayaan, yang menentukan benar tidaknya sesuatu. Segala sesuatu dinilai dengan akal, baik sebagai logika berpikir maupun sebagai rasa (hati nurani). Jadi apa yang benar menurut logika berpikir juga dapat diterima oleh hati nurani. Apabial aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka akan timbil dua kemungkinan pandangan hidup. Apabila keyakinan lebih berat didasarkan pada logika berpikir, sedangkan hati nurani dinomorduakan, kekuatan gaib dari Tuhan diakui adanya tetapi tidak menentukan, dan logika berpikir tidak ditekankan pada logika berpikir individu, melainkan logika berpikir kolektif (masyarakat), pandangan hidup ini disebut sosialisme. Apabila dasar keyakinan itu kekuatan gaib dari Tuhan dan akal, kedua-duanya mendasari keyakinan secara berimbang, akan dalam arti baik sebagia logika berpikir maupun sebagai daya rasa (hati nurani), logika berpikir baik secara individual maupun secara kolektif panangan hidup ini disebut sosialisme-religius. Kebajikan yang dikehendaki adalah kebajikan menurut logika berpikir dan dapat diterima oleh hati nurani, semuanya itu berkat karunia Tuhan.
Langkah-langkah berpandangan hidup yang baik :
  1. mengenal
  2. mengerti
  3. menghayati
  4. meyakini
  5. mengabdi
  6. mengamankan

Pengalaman

Pandangan hidup saya yang pertama adalah agama, agama adalah hal terpenting yang menjadi pandangan hidup saya karena agama lah dasar dari segalanya. Apapun yang saya lakukan haruslah sesuai dengan aturan agama yang berlaku. Setiap perbuatan yang kita lakukan yang sudah benar menurut agama pasti juga baik untuk kita. Yang kedua adalah perbuatan baik, saya memiliki  pandangan hidup untuk selalu berbuat baik karena berbuat baik adalah landasan untuk kita mencapai hidup yang baik pula, setiap perbuatan baik pasti akan berbuah kebaikan juga untuk kita.

Saturday, 8 November 2014

Manusia dan Keadilan

A.    Pengertian Keadilan
Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing – masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelangggaran terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil.
Keaadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal. Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan akan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan kepada pemerintah ? sebab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat. Kong Hu Cu berpendapat bahwa keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya. Pendapat ini terbatas pada nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati.
Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan pelakuan yang seimbang antara hak-hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntuk hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi hak nya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.
                                                                                    

B.     Macam Keadilan
  1. Keadilan legal atau keadilan moral
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya. Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya ( the man behind the gun ). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan legal
  1. Keadilan distributive
Aristotele berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally).
  1. Keadilan komutatif
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat

C.    Kejujuran
Kejujuran atau jujur artinya apa-apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya, apa yang dikatakan sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan, yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur berarti juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat.

D.    Kecurangan
Kecurangan atau curang identik dengan ketidakjujuran atau tidak jujur, dan sama pula dengan licik, meskipun tidak serupa benar. Curang atau kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hari nuraninya atau, orang itu memang dari hatinya sudah berniat curang dengan maksud memperoleh keuntungan tanpa bertenaga dan berusaha. Kecurangan menyebabkan orang menjadi serakah, tamak, ingin menimbun kekayaan yang berlebihan dengan tujuan agar dianggap sebagai orang yang paling hebat, paling kaya, dan senang bila masyarakat disekelilingnya hidup menderita. Bermacam-macam sebab orang melakukan kecurangan. Ditinjau dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya, ada 4 aspek yaitu aspek ekonomi, aspek kebudayaan, aspek peradaban dan aspek teknik. Apabila keempat asepk tersebut dilaksanakan secara wajar, maka segalanya akan berjalan sesuai dengan norma-norma moral atau norma hukum. Akan tetapi, apabila manusia dalam hatinya telah digerogoti jiwa tamak, iri, dengki, maka manusia akan melakukan perbuatan yang melanggar norma tersebut dan jadilah kecurangan.

E.     Pemulihan Nama Baik
Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menajaga dengan hati-hati agar  namanya baik. Lebih-lebih jika ia menjadi teladan bagi orang/tetangga disekitarnya adalah suatu kebanggaan batin yang tak ternilai harganya. Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan. Atau boleh dikatakan bama baik atau tidak baik ini adalah tingkah laku atau perbuatannya. Yang dimaksud dengan tingkah laku dan perbuatan itu, antara lain cara berbahasa, cara bergaul, sopan santun, disiplin pribadi, cara menghadapi orang, perbuatn-perbuatan yang dihalalkan agama dan sebagainya. Pada hakekatnya pemulihan nama baik adalah kesadaran manusia akan segala kesalahannya; bahwa apa yang diperbuatnya tidak sesuai dengan ukuran moral atau tidak sesuai dengan ahlak yang baik. Untuk memulihkan nama baik manusia harus tobat atau minta maaf. Tobat dan minta maaf tidak hanya dibibir, melainkan harus bertingkah laku yang sopan, ramah, berbuat darma dengan memberikan kebajikan dan pertolongan kepaa sesama hidup yang perlu ditolong dengan penuh kasih sayang , tanpa pamrin, takwa terhadap Tuhan dan mempunyai sikap rela, tawakal, jujur, adil dan budi luhur selalu dipupuk.

F.     Pembalasan
Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan yang serupa, perbuatan yang seimbang, tingkah laku yang serupa, tingkah laku yang seimbang. Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat. Sebaliknya pergaulan yagn penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula. Pada dasarnya, manusia adalah mahluk moral dan mahluk sosial. Dalam bergaul manusia harus mematuhi norma-norma untuk mewujudkan moral itu. Bila manusia berbuat amoral, lingkunganlah yang menyebabkannya. Perbuatan amoral pada hakekatnya adalah perbuatan yang melanggar atau memperkosa hak dan kewajiban manusia. Oleh karena itu manusia tidak menghendaki hak dan kewajibannya dilanggar atau diperkosa, maka manusia berusaha mempertahankan hak dan kewajibannya itu. Mempertahankan hak dan kewajiban itu adalah pembalasan.
Pengalaman


            Pengalaman saya tentang keadilan adalah ketika saya dan adik saya diperlakukan sangat adil oleh ibu saya. Meskipun saya sudah berusia 18 tahun sedangkan adik saya duduk di taman kanak-kanak, tapi ibu saya sama sekali tidak membedakan perlakuannya. Dari hal-hal yang besar hingga hal-hal yang sangat mendetail, ibu saya tetap berusaha se adil mungkin. Ibu saya sangat mengerti sekali bagaimana cara memperlakukan anaknya dengan sangat adil, dan itulah yang harus bisa saya contoh untuk anak-anak saya nanti ataupun untuk orang-orang lain.